Memahami Makna Filsafat, Filsafat Pendidikan dan Filsafat pendidikan islam

BAB I
PENDAHULUAN


a. Kata Pengantar
Dorongan ingin tahu (curiosity) sebagai hasrat alamiah manusia merupakan entry point bagi lahirnya segala ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, kelahiran ilmu pengetahuan akan selalu diawalioleh rasa keingintahuan manusia akan segala sesuatu. Apa yang diketahui manusia disebut pengetahuan.
Pengetahuan ilmiah akan dapat menghasilkan kebenaran ilmiah, yaitu sebuah kebenaran yang dapat diperoleh dengan sarana dan tata cara tertentu yang hasilnya dapat di kaji ulang oleh siapa pun dan kapan pun dengan kesimpulan yang sama. Karena kebenaran ilmiah yang dihasilkan, maka ia disebut a bigher level of knowledge. Penegetahuan ilmiah ini secara terus-menerus dekembangkan dan di kaji manusia secara mendalam, sehingga melahirkan apa yang disebut dengan Filsafat Ilmu (Philosophy of Science, Wissenscatlehre atau Wetenschapsleer). Dengan demikian, filsafat ilmu merupakan pengenbangan secara mendalam dan filosofis dari apa yang disebut Filsafat Pengetahuan.
Di dalam filsafat ilmu, di bahas tiang-tiang penyangga eksistensi sebuah ilmu, yang merupakan cabang-cabang utama Filsafat Ilmu. Tiang penyangga ilmu terdiri dari tiga aspek, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Aspek antologis keilmuan biasanya mempermasalahkan apa yang dikaji oleh sebyah ilmu pengetahuan. Aspek epistemologis mencoba menelaah ilmu pengetahuan dari segi sumber dan metode ilmu yang digunakan dalam rangka mencapai suatu kebenaran ilmiah. Aspek aksiologis suatu ilmu pengetahuan mempertanyakan untuk apa suatu ilmu pengetahuan digunakan, atau dengan kata lain, aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan suatu ilmu pengetahuan.

b. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari pembahasan ini adalah sebagai berikut:
1. Apa makna dari filsafat pendidikan dan filsafat pendidikan islam?
2. Apa saja ruang lingkup dari filsafat pendidikan islam?
c. Tujuan masalah
Adapun tujuan masalah dari pembahasan ini adalah sebagai berikut:
1. Memahami makna dari filsafat pendidikan dan filsafat pendidikan islam
2. Mengetahui apa saja ruang lingkup dari filsafat pendidikan islam














BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Memahami Makna Filsafat
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Ciri-ciri berfikir filosofi :
1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.
2. Berfikir secara sistematis.
3. Menyusun suatu skema konsepsi, dan Menyeluruh.
Beberapa ajaran filsafat yang telah mengisi dan tersimpan dalam khasanah ilmu adalah:
Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme humanistis.
Idealisme yang berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme objektif.
Realisme. Aliran ini berpendapat bahwa dunia batin/rohani dan dunia materi murupakan hakitat yang asli dan abadi.
Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.
Pengertian Filsafat Pendidikan
Merupakan terapan dari filsafat umum, maka selama membahas filsafat pendidikan akan berangkat dari filsafat.
Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai.
Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab/aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurnagnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri.
Filsafat pendidikan pada umumnya dan filsafat pendidikan Islam pada khususnya, adalah bagian dari ilmu filsafat, maka dalm mempelajari filsafat ini perlu memahami lebih dulu tentang pengertian filsafat terutama dalam masalahnya yang berhubungan dengan pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Secara harfiah, filsafat berarti “cinta kepada ilmu”. Filsafat berasal dari kata philo yang artinya cinta dan sophos artinya ilmu atu hikmah. Secara historis, filsafat merupakan induk dari segala ilmu pengetahuan yang berkembang sejak zaman Yunani kuno sampai zaman modern sekarang.
Berikut ini dikemukakan pengertian filsafat dan kaitannya dengan pendidikan pada umumnya dari beberapa ahli fikir sebagai berikut.
1. John Dewey memandang pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar dan fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju ke arah tabiat manusia dan manusia biasa.
2. Van Cleve Morris menyatakan,”secara ringkas kita mengatakan bahwa pendidikan adalah hidup secara menyeluruh kepada setiap generasi, tetapi ia juga menjadi agen (lembaga) yang melayani hati nurani masyarakat dalam perjuangan mencapai hari depan yang lebih baik.”
Dengan demikian,jelaslah filsafat pendidikan itu adalah filsafat yang memikirkan masalah pendidikan. Oleh karena ada kaitan dengan pendidikan, filsafat diartikan sebagai teori pendidikan dengan segala tingkat. Sebenarnya, masalah ada atau tidaknya filsafat pendidikan tidak perlu dipersoalkan lagi, karena masa sekarang ia telah berkembang menjadi suatu disiplin keimuan yang ada di dalam kubu ilmu pendidikan. Bahkan, ilmu-ilmu pengetahuan selain pendidikan hampir semuanya memiliki filsafatnya sendiri. Karena dengan memahami filsafatnya, orang akan dapat mengembangkan secara konsisten ilmu-ilmu pengetahuan yang dipelajari.
Untuk menyelesaikan permasalahan kependidikan, ada tiga disiplin ilmu yang membantu filsafat pendidikan, yaitu:
1) Etika atau teori tentang nilai,
2) Teori ilmu pengetahuan atau epistimologi, dan
3) Teori tentang realitas atau kenyataan dan yang ada di balik kenyataan, yang disebut metafisika.
Permasalahan yang di identifikasikan dalam ke tiga disiplin ilmu ini menjadi materi yang di bahas dalam filsafat pendidikan.
Oleh karena filsafat pendidikan mempunyai ruang-lingkup pemikiran yang mendasar tentang permasalahan fundamental manusia di hubungkan dengan ketiga disiplin ilmu di atas, maka menurut W.H. Kilpatrick, filsafat pendidikan mempunyai tiga tugas pokok, yaitu sebagai berikut:
a) Memberikan kritik-kritik terhadap asumsi yang dipegang oleh para pendidik.
b) Membantu memperjelas tujuan-tujuan pendidikan.
c) Melakukan evaluasi secara kritis tentang berbagai metode pendidikan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan-tujuan kependidikan yang telah di pilih.
Dalam kaitannya dengan filsafat pendidikan islam, pemikiran para ahli filsafat pendidikan pada umumya, seperi telah di sebutkan di atas, perlu kita jadikan bahan acuan yang memberikan ruang lingkup pemikiran filsafat pendidikan Islam. Kita berpendirian bahwa semua ilmu pengetahuan yang ada relevansinya dengan filsafat pendidikan Islam harus kita ambil untuk bahan memperdalam dan memperluas studi kita. Dari manapun datangnya hikmah itu, kita ambil dan kita manfaatkan.
Filsafat Pendidikan Islam
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata Philo yang berarti cinta, dan kata Sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian, filsafat berarti cinta cinta terhadap ilmu atau hikmah. Terhadap pengertian seperti ini al-Syaibani mengatakan bahwa filsafat bukanlah hikmah itu sendiri, melainkan cinta terhadap hikmah dan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian padanya dan menciptakan sikap positif terhadapnya. Selanjutnya ia menambahkan bahwa filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Selain itu terdapat pula teori lain yang mengatakan bahwa filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, Philosophia: philos berarti cinta, suka (loving), dan sophia yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi, Philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran atau lazimnya disebut Pholosopher yang dalam bahasa Arab disebut failasuf.
Sementara itu, A. Hanafi, M.A. mengatakan bahwa pengertian filsafat telah mengalami perubahan-perubahan sepanjang masanya. Pitagoras (481-411 SM), yang dikenal sebagai orang yang pertama yang menggunakan perkataan tersebut. Dari beberapa kutipan di atas dapat diketahui bahwa pengertian fisafat dar segi kebahsan atau semantik adalah cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Dengan demikian filsafat adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menempatkan pengetahuan atau kebikasanaan sebagai sasaran utamanya. Filsafat juga memilki pengertian dari segi istilah atau kesepakatan yang lazim digunakan oleh para ahli, atau pengertian dari segi praktis.
Selanjutnya bagaimanakah pandangan para ahli mengenai pendidikan dalam arti yang lazim digunakan dalam praktek pendidikan. Dalam hubungan ini dijumpai berbagai rumusan yang berbeda-beda. Ahmad D. Marimba, misalnya mengatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si – terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Berdasarkan rumusannya ini, Marimba menyebutkan ada lima unsur utama dalam pendidikan, yaitu: (1) Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan atau pertolongan yang dilakukan secara sadar; (2) Ada pendidik, pembimbing atau penolong; (3) Ada yang di didik atau si terdidik; dan (4) Adanya dasar dan tujuan dalam bimbingan tersebut, dan. 5) Dalam usaha tentu ada alat-alat yang dipergunakan.
Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Islam tidak hanya mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di akhirat, ibadah dan penyerahan diri kepada Allah saja, melainkan juga mengatur cara mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia termasuk di dalamnya mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur masalah pendidikan. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah.
Sebagai sumber ajaran, al Qur’an sebagaimana telah dibuktikan oleh para peneliti ternyata menaruh perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan dan pengajaran. Demikian pula dengan al Hadist, sebagai sumber ajaran Islam, di akui memberikan perhatian yang amat besar terhadap masalah pendidikan. Nabi Muhammad SAW, telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long life education ).
Dari uraian diatas, terlihat bahwa Islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya bersumber pada al- Qur’an dan al Hadist sejak awal telah menancapkan revolusi di bidang pendidikan dan pengajaran. Langkah yang ditempuh al Qur’an ini ternyata amat strategis dalam upaya mengangkat martabat kehidupan manusia. Kini di akui dengan jelas bahwa pendidikan merupakan jembatan yang menyeberangkan orang dari keterbelakangan menuju kemajuan, dan dari kehinaan menuju kemuliaan, serta dari ketertindasan menjadi merdeka, dan seterusnya.
Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist Firman Allah : “ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang benar ( QS. Asy-Syura : 52 )”.
Dan Hadis dari Nabi SAW : “ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”
Dari ayat dan hadis di atas tadi dapat diambil kesimpulan :
Bahwa al Qur’an diturunkan kepada umat manusia untuk memberi petunjuk kearah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk kearah jalan yang diridloi Allah SWT.
Menurut Hadist Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha atau dalam bentuk pendidikan Islam.
Al Qur’an dan Hadist tersebut menerangkan bahwa nabi adalah benar-benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada umatnya agar saling memberi petunjuk, memberikan bimbingan, penyuluhan, dan pendidikan Islam. Bagi umat Islam maka dasar agama Islam merupakan fondasi utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Karena ajaran Islam bersifat universal yang kandungannya sudah tercakup seluruh aspek kehidupan ini.
Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya, serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya. Corak pendidikan itu erat hubungannya dengan corak penghidupan, karenanya jika corak penghidupan itu berubah, berubah pulalah corak pendidikannya, agar si anak siap untuk memasuki lapangan penghidupan itu. Pendidikan itu memang suatu usaha yang sangat sulit dan rumit, dan memakan waktu yang cukup banyak dan lama, terutama sekali dimasa modern dewasa ini. Pendidikan menghendaki berbagai macam teori dan pemikiran dari para ahli pendidik dan juga ahli dari filsafat, guna melancarkan jalan dan memudahkan cara-cara bagi para guru dan pendidik dalam menyampaikan ilmu pengetahuan dan pengajaran kepada para peserta didik. Kalau teori pendidikan hanyalah semata-mata teknologi, dia harus meneliti asumsi-asumsi utama tentang sifat manusia dan masyarakat yang menjadi landasan praktek pendidikan yang melaksanakan studi seperti itu sampai batas tersebut bersifat dan mengandung unsur filsafat. Memang ada resiko yang mungkin timbul dari setiap dua tendensi itu, teknologi mungkin terjerumus, tanpa dipikirkan buat memperoleh beberapa hasil konkrit yang telah dipertimbangkan sebelumnya didalam sistem pendidikan, hanya untuk membuktikan bahwa mereka dapat menyempurnakan suatu hasil dengan sukses, yang ada pada hakikatnya belum dipertimbangkan dengan hati-hati sebelumnya.
Sedangkan para ahli filsafat pendidikan, sebaiknya mungkin tersesat dalam abstraksi yang tinggi yang penuh dengan debat tiada berkeputusan,akan tetapi tanpa adanya gagasan jelas buat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ideal. Tidak ada satupun dari permasalahan kita mendesak dapat dipecahkan dengan cepat atau dengan mengulang-ulang dengan gigih kata-kata yang hampa. Tidak dapat dihindari, bahwa orang-orang yang memperdapatkan masalah ini, apabila mereka terus berpikir,yang lebih baik daripada mengadakan reaksi, mereka tentu akan menyadari bahwa mereka itu telah membicarakan masalah yang sangat mendasar.
Sebagai ajaran (doktrin) Islam mengandung sistem nilai diatas mana proses pendidikan Islam berlangsung dan dikembangkan secara konsisten menuju tujuannya. Sejalan dengan pemikiran ilmiah dan filosofis dari pemikir-pemikir sesepuh muslim, maka sistem nilai-nilai itu kemudian dijadikan dasar bangunan (struktur) pendidikan islam yang memiliki daya lentur normatif menurut kebutuhan dan kemajuan.
Pendidikan Islam mengidentifikasi sasarannya yang digali dari sumber ajarannya yaitu Al Quran dan Hadist, meliputi empat pengembangan fungsi manusia :
Menyadarkan secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah-tengah makhluk lain serta tanggung jawab dalam kehidupannya.
Menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakatnya.
Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada Nya
Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya
Setelah mengikuti uraian diatas kiranya dapat diketahui bahwa Filsafat Pendidikan Islam itu merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al Qur’an dan al Hadist sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli, khususnya para filosof Muslim, sebagai sumber sekunder.
Filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.
Sebagai hasil pemikiran bercorak khas Islam, filsafat pendidikan Islam pada hakikatnya adalah konsep berpikir tentang kependidikan yang bersumber atau berdasarkan ajaran agama Islam, tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat di bina dan di kembangkan serta di bimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya di jiwai oleh ajaran Islam, serta mengapa manusia harus di bina menjadi hamba Allah yang berkepribadian demikian.
Dengan demikian, filsafat pendidika Islam seharusnya bertugas dalam tiga dimensi, yakni sebagai berikut:
1. Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan pada proses pelaksanaan pendidikan yang berdasarkan ajaran agama Islam.
2. Melakukan kritik dan koreksi terhadap proses pelaksanaan tersebut.
3. Melakukan evaluasi terhadap metode dari proses pendidikan tersebut.
Ketiga dimensi tugas tersebut berjalan diatas landasan berpikir yang bersifat sitematis, logis, menyeluruh, radikal dan universal, serta terpadu.
Dalam masyarakat yang sedang mengalami perubahan seperti saat ini, kegunaan fungsional dari filsafat pendidikan Islam adalah semakin penting, karena filsafat ini menjadi landasan seterategi dan kompas jalannya pendidikan Islam. Kemungkinan-kemungkinan yang menyimpang dari tujuan pendidikan Islam akan dapat di perkecil. Sebaliknya, kemampuan dan kedayagunaan pendidikan Islam dapat lebih dimantabkan dan di perbesar, karena gangguan, hambatan serta rintangan yang bersifat mental atau spiritual serta teknis operasional akan dapat diatasi atau disingkirkan dengan lebih mudah.

2.2 Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa filsafat pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu. Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian tentang filsafat pendidikan Islam. Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya. Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, ysng tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.
Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam Sebagai suatu metode, pengembangan filsafat pendidikan Islam biasanya memerlukan empat hal sebagai berikut : Pertama, bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengembangan filsafat pendidikan. Dalam hal ini dapat berupa bahan tertulis, yaitu al Qur’an dan al Hadist yang disertai pendapat para ulama serta para filosof dan lainnya ; dan bahan yang akan di ambil dari pengalaman empirik dalam praktek kependidikan. Kedua, metode pencarian bahan. Untuk mencari bahan-bahan yang bersifat tertulis dapat dilakukan melalui studi kepustakaan dan studi lapangan yang masing-masing prosedurnya telah diatur sedemikian rupa. Namun demikian, khusus dalam menggunakan al Qur’an dan al Hadist dapat digunakan jasa Ensiklopedi al Qur’an semacam Mu’jam al Mufahras li Alfazh al Qur’an al Karim karangan Muhammad Fuad Abd Baqi dan Mu’jam al muhfars li Alfazh al Hadist karangan Weinsink. Ketiga, metode pembahasan. Untuk ini Muzayyin Arifin mengajukan alternatif metode analsis-sintesis, yaitu metode yang berdasarkan pendekatan rasional dan logis terhadap sasaran pemikiran secara induktif, dedukatif, dan analisa ilmiah. Keempat, pendekatan. Dalam hubungannya dengan pembahasan tersebut di atas harus pula dijelaskan pendekatan yang akan digunakan untuk membahas tersebut. Pendekatan ini biasanya diperlukan dalam analisa, dan berhubungan dengan teori-teori keilmuan tertentu yang akan dipilih untuk menjelaskan fenomena tertentu pula. Dalam hubungan ini pendekatan lebih merupakan pisau yang akan digunakan dalam analisa. Ia semacam paradigma (cara pandang) yang akan digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena.
Pembahasan tentang ruang lingkup filsafat pendidikan islam sebenarnya merupakan jawaban dari pertanyaan, apa itu objek filsafat pendidikan islam? Ini merupakan kajian ontologis filsafat pendidikan islam sebagai sebuah ilmu. Setiap ilmu pengetahuan mempunyai objek tertentu yang akan dijadikan sasaran penyelidikan (objek material) dan yang akan di pandang (objek formal). Perbedaan satu ilmu pengetahuan dengan yang lainnya terletak pada sudut pandang (objek formal) yang digunakannya. Objek ini dipertanyakan terus menerus tanpa mengenal titik henti. Objek material filsafat pendidikan islam sama dengan objek filsafat pada umumnya, yaitu segala sesuatu yang ada. Segala sesuatu yang ada mencakup “ada yang tampak” dan “ada yang tidak tampak”. Ada yang tampak adalah dunia empiris, dan ada yang tidak tampak adalah alam metafisika. Adapun objek formal filasafat pendidikan islam adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal dan objektif tentang pendidikan islam untuk dapat diketahui hakikatnya.
Karena hanya obyek formal yang dapat membuat filsafat pendidikan islam berbeda dengan yang lainnya, maka pembahasan ini akan ditekankan pada objek formalnya. Dalam konteks ini, penulis membagi objek formal filsafat pendidikan islam dalam dua kerangka, makro dan mikro. Yang dimaksud makro disini adalah melihat filsafat pendidikan islam dari sudut teoritis-filosofis, sedangkan maksud dari mikro adalah melihat objek filsafat pendidikan islam dari segi praktis-pragmatis dalam sebuah proses pelaksanaanya.
Secara makro, yang menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan islam adalah objek formal filsafat itu sendiri, yaitu mencari keterangan secara radikal mengenai Tuhan, manusia dan alam, yang tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan biasa. Sebagaimana filsafat, filsafat pendidikan juga mengkaji ketiga objek ini berdasarkan ketiga cabangnya: ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Dengan ini tidak jarang karya-karyamengenai filsafat pendidikan memuat objek-objek pembahsan seputar sistem-sistem atau aliran-aliran filsafat yang diterapkan dalam dunia pendidikan. Sebagai contoh, Imam Bamadib dalam bukunya Filsafat Pendidikan: Sistem dan Metode, dengan menggunakan kerangka yang digunakan Theodore Brameld, menyajikan tiga sistem filsafat yang digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu progresivisme, esensialisme, dan perenialisme. Ketiga sistem atau aliran filsafat ini dibahas pandanganya tentang Tuhan, alam dan manusia dari sudut ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Hal yang sama juga dilakukan Mohammad Nur Syam dalam Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, dengan mengemukakan empat aliran filsafat dalam pendidikan, yaitu progresivisme, esensialisme, perenialisme, dan rekonstruksionisme.
Berbeda dengan Knight yang mengungkapkan aliran filsafat pendidikan berdasarkan sejarahnya, Gerald L. Gutek dalam Philosophical and Ideological Perspektives on Education, menjelaskan aliran filsafat pendidikan berdasarkan tokoh-tokohnya. Disini disebutkan aliran idealisme dengan tokohnya Plato, realisme dengan Aristoteles, teistik-realisme dengan Thomas Aquinas, naturalisme dengan Rousseau, pragmatisme dengan Dewey, eksistensialisme dengan Sartre, filsafat analitik dengan Russel, liberalisme dengan Locke, konservatisme dengan Burke, utopianisme dengan Owen, marxisme dengan Karl Marx, totalitarianisme dengan Hitler, perenialisme dengan Hutchins, progresivisme dengan Kilpatrick, dan rekonstruksionisme sosial dengan tokohnya Counts. Berbeda dengan karya-karya itu, George F. Kneller dalam Movement of Thought in Modern Education, mengungkapkan filsafat pendidikan berdasarkan gerakan-gerakan pemikiran dalam dunia pendidikan. Dalam karya ini, disebutkan delapan gerakan pemikiran pendidikan, yaitu analisis, fenomenologi, hermeneutik, strukturalisme, positivisme, marxisme, romantisme, dan konservatisme.
Kajian objek filsafat pendidikan didasarkan pada aliran atau sistem filsafat pendidikan, sebagaimana dikemukakan dalam karya-karya di atas, karena karya-harya ini melihat filsafat pendidikan secara linier dengan kacamata makro. Adapun secara mikro, objek kajian filsafat pendidikan adalah hal-hal yang merupakan faktor atau komponen dalam proses pelaksanaan pendidikan. Faktor atau komponen pendidikan ini umumnya ada lima, yaitu tujuan pendidikan, pendidik, anak didik, alat pendidikan (kurikulum, metode, dan penilaian pendidikan), dan lingkungan pendidikan.
Secara khusus, Abudin Nata dalam Filsafat Pendidikan Islam menyebutkan bahwa objek Filsafat Pendidikan Islam dalam tinjauan mikro adalah pemikiran yang serba mendalam, mendasar, sistematis, terpadu, logis, menyeluruh dan universal mengenai konsep-konsep pendidikan yang didasarkan atas ajaran islam. Konsep-konsep ini mencakup lima faktor pendidikan, sebagaimana disebutkan diatas.




















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Ciri-ciri berfikir filosofi :
1. Berfikir dengan menggunakan disiplin berpikir yang tinggi.
2. Berfikir secara sistematis.
3. Menyusun suatu skema konsepsi, dan Menyeluruh.
Dasar pelaksanaan Pendidikan Islam terutama adalah al Qur’an dan al Hadist.
Firman Allah : “ Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al Qur’an itu cahaya yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang benar ( QS. Asy-Syura : 52 )”.
Dan Hadis dari Nabi SAW : “ Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya, sempurna akal pikirannya, serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia” (al Ghazali, Ihya Ulumuddin hal. 90)”



Daftar pustaka
http://intl.feedfury.com/content/16333546-filsafat-pendidikan.html
http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_11.html
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/05/25/filsafat-pendidikan-islam/
Arifin, Muzayyin.2009.Filsafat Pendidikan Isalam.Bumi aksara.
Suharto, Toto. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Ar-Ruzz: Jogjakarta
Ahmad, D Marimba. 1964. Filsafat Pendidikan Islam. Al maarif.
Jalaludin, Said, Usman.1996. Filsafat Pendidikan Islam. Raja Grafindo Persada
Badaruddin, Kemas.2006. Filsafat Pendidikan Islam. Pustaka Pelajar Offsed

0 Response to "Memahami Makna Filsafat, Filsafat Pendidikan dan Filsafat pendidikan islam"

Poskan Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme